Wednesday, February 29, 2012

Meeting with the elders


Beberapa hari yang lalu sempet dapet undangan dari pihak RT setempat untuk pembahasan terkait perilaku anak kos di lingkungan tempat aku tinggal. Jadi yang dapat undangan itu cuma anak-anak kos/ngontrak di lingkungan RT/RW ini.
Udah lebih dari setahun gini, baru kali ini dapet undangan begituan. Awalnya kaget, dan rencananya males datang, karena gak ada temennya, soalnya yang lain pada males juga.
Tapi dalam hati gak tenang, trus dapet sms dari mas yang punya kontrakan. Setelah dipikir-pikir, aku juga lagi gak sibuk-sibuk amat, dan penasaran sama what will happen, akhirnya mutusin berangkat.
................
Jadilah berangkat sendirian karena yang lain tetap pada gak mau dateng. Kesel sih, tapi yaudah lah.
Dan masalahnya setelah setahun lebih disini, aku gak ngerti rumah pak RT/RW itu di mana (Bahkan sampai sekarang masih bingung, kmarin itu rumahnya pak RT apa pak RW. Hhahahaha…).
Untungnya ada mas-mas kontrakan di simpang jalan, jadi minta dianterin sekalian ke rumah pak RT …. or pak RW …. or whatever tetua setempat.
Pas udah sampai di rumah beliau, baru ada 2 orang yang datang yang ternyata tinggal serumah, jadi baru ada 2 kosan yang dateng ke pertemuan. Padahal ekspektasi awalnya udah telat dan bakalan udah ramai karena telat setangah jam dari waktu undangannya (Don’t ever trust expextations!).
Aku pribadi sih dari awal udah prediksi pertemuan ini bakalan bahas apa, karena pas dianterin ke tempat pertemuan sedikit curi-curi info sama mas-mas kontrakan, yang ternyata benar.
Jadi pertemuan itu membahas tentang bad behavior-nya para anak kos/kontrakan yang gak ada induk semangnya.
As far as i know, pertemuan itu dibuka pihak RT/RW setempat dengan sangat ‘cerdas’. Pembahasan gak langsung ‘menusuk’ ke bagian bad behavior-nya anak kos/kontrak, tapi dengan sedikit basa-basi kecil semacam pendahuluan you-know-lah.
Dan di akhir pertemuan, muncul beberapa poin, di antaranya larangan bawa teman beda jenis ke kos/kontrakan, jaga kedamaian lingkungan (jangan berisik gitu deh), dan jaga keakraban antar warga (thing such as saling menyapa or smiling to each other).
Di satu sisi, i couldn’t agree more sama beberapa poin, tapi on the other side, ada poin-poin yang ‘menggelitik’ pikiran.
Di tengah pembicaraan, salah seorang tetua (i still confuse whether he is Mr.RT or Mr. RW, okay?!! ) mengeluhkan tentang kondisi pergaulan di lingkungan yang dia pimpin yang semakin mengarah ke bad things. Beliau mengatakan kalau kondisi lingkungannya sedang menuju sesuatu yang tidak ‘sehat’, dan salah satu penyebabnya according to him karena mulai banyak anak-anak yang kos/ngontrak di lingkungannya.
Di sini perlu aku jelasin kalau lokasi tempat aku dan teman-teman tinggal sekarang memang agak jauh dari kampus dan agak menjorok ke daerah pedesaan.
Nah, di sini si bapak bercerita karena kondisi di sekitar kampus mulai penuh, maka sebagian mahasiswa punya inisiatif untuk cari tempat kos ke pinggiran keramaian. Ya salah satu contohnya ya daerah di tempat tinggal ku sekarang.
...........
.............
Nah! (again?) i’ve just arrived at the interesting part.
Pada satu titik, beliau-beliau yang berkesempatan ngomong menyatakan (as far as i can catched their point) kalau mereka akan berusaha untuk menjaga ‘tradisi’ lingkungan mereka, dan menekankan kepada para undangan which are anak-anak kos/kontrakan untuk ikut berpartisipasi.
Aku sih gak masalah untuk berpartisipasi, tapi cara mereka menyampaikan beberapa hal itu seperti menyudutkan undangan yang datang dengan pandangan ‘You have to keep OUR environment fine’ dalam versi ‘we can safe our environment together, gentleman, right?’ plus emoticon:)’.
Nah! (Really?) aku mulai merasa getaran-getaran aneh dan gak sabar buat komen,
Mereka mengundang para anak-anak kos/kontrakan berharap mereka bisa menjaga behave anak-anak / pemuda-pemudi lingkungan mereka dari bad attitudes. Padahal kalau bisa kita liat secara lebih luas, para anak kos/kontrakan ini hanya menyumbang bagian kecil dari masalah yang mereka kira mereka hadapi. Di satu sisi, mereka malah menunjukkan kelemahan mereka dalam mengatasi masalah ini. Mereka pikir dengan menjaga behave ‘pendatang’, their child will be fine? Like really? Your child can learn ‘that’ and’ everything else’ from the other place or other environment.
Dengan meng-handle behave pendatang, apakah mereka berpikiran kalau problem is already solved (wish they are not!). It is not! Seperti yang udah aku tulis di atas, mereka bisa pelajari itu dari lingkungan lain, lingkungan sekolah mereka, from television maybe, atau other sources. Langkah yang seharusnya ditekankan itu harusnya bimbingan atau guidance dari masing-masing keluarga. Berikan pemahaman norma dan aturan agama itu di dalam rumah masing-masing. Beri anak pengertian mana yang baik dan yang buruk. Well, Aku gak bisa jamin juga sih, tapi sebagai mantan anak-anak, aku ngerasain kalau ajaran-ajaran yang diajarkan dari dalam rumah itu banyak membantu dan menjadi bekal tersendiri untuk facing the world or in this case, handling bad attitudes/behaves.
I mean, the world is spinning and keep moving, you can’t predict all of the things that maybe you think you can handle, but it is not!.The real protection itu harus dari dalam ke luar, bukannya dari luar ke dalam. The world is going crazy, gentlemen!

Ps: And just for the record, on the night after meeting, i was trying to be nice and respect the rules with giving smile to one neighbor, and that person was giving me that palm face. WTF!

No comments:

Post a Comment