Kamu-kamu pasti sering dengerin
orang-orang di sekitar memberikan komentar tentang beberapa fenomena seperti
berikut ini:
“Jakarta macet ya gara-gara
angkotnya suka ngetem sembarangan…..”
“Ini di kereta api kok banyak
pedagangnya sih? Kan udah dilarang!!!...”
“Sutradara Indonesia ini gak
bosen-bosen apa bikin pilem horor komedi esek-esek?”
“Mobil depan grasak-grusuk banget
sih, kayak dia doang yang bayar pajak jalan raya se-Indonesia!!!”
Bukan hanya orang di sekitar saja
yang mengeluarkan komentar pedas seperti di atas, jangan-jangan kita sendiri yang pernah ngomong
kayak gitu, atau paling ngga pernah kepikiran seperti itu.
Aku sendiri sih pernah beberapa
kali kesal sama beberapa fenomena serupa seperti di atas. Cuma, setelah
dipikir-pikir ulang, kayaknya ada yang salah sama cara aku berpikir.
Cara kita berkomentar dengan
menyalahkan pihak lain lah yang menjadi masalah. Seringnya kita menyalahkan
pihak lain dalam suatu fenomena yang merugikan orang banyak pada saat kita
TIDAK BERADA dalam posisi mereka, padahal kita PERNAH ADA dalam posisi tersebut.
Ironi?
Sengaja atau tidak, kita sering
berpikir lurus satu arah dengan menganggap diri kita sendiri sebagai pihak yang
paling benar dan orang lain selalu salah.
Dalam kasus yang pertama di atas,
entah kalian pernah denger juga atau tidak, tapi aku sering banget dengerin komentar
orang yang tanpa tedeng aling-aling langsung menempatkan angkutan umum sebagai
pihak yang mutlak bersalah dalam menyebabkan kemacetan atau at least buat jalanan jadi gak nyaman.
Di sini, aku gak pengen ngebahas
bersalah atau tidaknya para supir angkutan umum, tapi aku coba fokus pada
alasan kenapa angkutan-angkutan umum itu suka berhenti sembarangan di jalanan.
Para supir angkot/bus ini pasti
berhenti juga karena ada alasan, yaitu ADA PENUMPANG YANG MEMINTANYA UNTUK
BERHENTI DI SEMBARANG TEMPAT.
Orang-orang yang suka naik dan
turun angkutan umum secara sembarangan inilah yang pada saat sudah duduk-duduk
santai di rumah atau lagi ngopi-ngopi cantik bareng temen-temennya atau lagi
duduk-duduk lucu di mobil pribadi, yang seringnya innocently berkomentar tentang fenomena ‘angkutan umum ngetem
sembarang tempat ini’.
Jangan bilang kalau kamu gak punya
teman-teman yang seperti aku gambarin di atas, atau jangan-jangan kita sendiri
yang kayak gitu.
Ngejilat ludah sendiri? Mungkin
bisa dibilang kayak gitu.
Kalau contoh kasus yang kedua dan
ketiga agak-agak mirip sih. Kita seringnya straightforward
nyalahin para pedagang yang gak tau aturan dan para sutradara/produser yang
doyan buat film horror esek-esek.
Kalau kita mau membuka pikiran dan
memandangnya dari sisi yang berbeda, pasti kita jadi ragu nyalahin pedagang
atau sutradara film.
Bapak-bapak atau ibu pedagang yang
tetap jualan di suatu tempat yang udah dilarang itu mungkin memang salah. Tapi,
siapa yang buat mereka tetap berjualan? KARENA ADA ORANG YANG BELI, bukan?
Jadi, kita salah kalau hanya
menimpakan kesalahan sama pedagang. Karena justru kitalah sebagai PIHAK KONSUMEN
yang harus diingatkan untuk tidak membeli barang apapun dari mereka.
Gampangnya sih, “selama masih ada
yang mau beli, kenapa kita gak tetap jualan aja”.
Mungkin itu yang ada di pikiran
para penjual. Pihak yang bersalah di sini harusnya adalah konsumen yang membuat
pedagang tetap menjual barang dagangannya, meskipun sudah dilarang.
Coba pikirin deh, “kalau gak ada
yang beli, apa masih ada yang mau jual?”, gak kan?
Ada yang salah sama perilaku
masyarakat kita. Orang-orang pada gak mau mengakui kesalahan diri sendiri dan
malas untuk introspeksi diri.
Ya hasilnya, kita gak bisa
maju-maju, karena pihak A nyalahin pihak B, pihak B nyalahin pihak C, dan
seterusnya dan seterusnya.
Contoh-contoh kasus yang lainnya
itu konsepnya sama sih. Kita terus merasa diri kita yang paling benar pada
suatu waktu. Turn out, it is not!
Coba kita lebih rajin membuka
pikiran dan memperluas pandangan serta memandang suatu kasus/fenomena dari
berbagai sisi, ‘apa yang kita lakukan sudah pasti benar?’, ‘apa benar orang ini
mutlak salah?’, dan sebagainya.
No comments:
Post a Comment