Friday, November 9, 2012

Yang Salah, Siapa?



Kamu-kamu pasti sering dengerin orang-orang di sekitar memberikan komentar tentang beberapa fenomena seperti berikut ini:

“Jakarta macet ya gara-gara angkotnya suka ngetem sembarangan…..”

“Ini di kereta api kok banyak pedagangnya sih? Kan udah dilarang!!!...”

“Sutradara Indonesia ini gak bosen-bosen apa bikin pilem horor komedi esek-esek?”

“Mobil depan grasak-grusuk banget sih, kayak dia doang yang bayar pajak jalan raya se-Indonesia!!!”


Bukan hanya orang di sekitar saja yang mengeluarkan komentar pedas seperti di atas,  jangan-jangan kita sendiri yang pernah ngomong kayak gitu, atau paling ngga pernah kepikiran seperti itu.

Aku sendiri sih pernah beberapa kali kesal sama beberapa fenomena serupa seperti di atas. Cuma, setelah dipikir-pikir ulang, kayaknya ada yang salah sama cara aku berpikir.

Cara kita berkomentar dengan menyalahkan pihak lain lah yang menjadi masalah. Seringnya kita menyalahkan pihak lain dalam suatu fenomena yang merugikan orang banyak pada saat kita TIDAK BERADA dalam posisi mereka, padahal kita PERNAH ADA dalam posisi tersebut.

Ironi?

Sengaja atau tidak, kita sering berpikir lurus satu arah dengan menganggap diri kita sendiri sebagai pihak yang paling benar dan orang lain selalu salah.


Dalam kasus yang pertama di atas, entah kalian pernah denger juga atau tidak, tapi aku sering banget dengerin komentar orang yang tanpa tedeng aling-aling langsung menempatkan angkutan umum sebagai pihak yang mutlak bersalah dalam menyebabkan kemacetan atau at least buat jalanan jadi gak nyaman.

Di sini, aku gak pengen ngebahas bersalah atau tidaknya para supir angkutan umum, tapi aku coba fokus pada alasan kenapa angkutan-angkutan umum itu suka berhenti sembarangan di jalanan.

Para supir angkot/bus ini pasti berhenti juga karena ada alasan, yaitu ADA PENUMPANG YANG MEMINTANYA UNTUK BERHENTI DI SEMBARANG TEMPAT.

Orang-orang yang suka naik dan turun angkutan umum secara sembarangan inilah yang pada saat sudah duduk-duduk santai di rumah atau lagi ngopi-ngopi cantik bareng temen-temennya atau lagi duduk-duduk lucu di mobil pribadi, yang seringnya innocently berkomentar tentang fenomena ‘angkutan umum ngetem sembarang tempat ini’.

Jangan bilang kalau kamu gak punya teman-teman yang seperti aku gambarin di atas, atau jangan-jangan kita sendiri yang kayak gitu.

Ngejilat ludah sendiri? Mungkin bisa dibilang kayak gitu.
Kalau contoh kasus yang kedua dan ketiga agak-agak mirip sih. Kita seringnya straightforward nyalahin para pedagang yang gak tau aturan dan para sutradara/produser yang doyan buat film horror esek-esek.

Kalau kita mau membuka pikiran dan memandangnya dari sisi yang berbeda, pasti kita jadi ragu nyalahin pedagang atau sutradara film.

Bapak-bapak atau ibu pedagang yang tetap jualan di suatu tempat yang udah dilarang itu mungkin memang salah. Tapi, siapa yang buat mereka tetap berjualan? KARENA ADA ORANG YANG BELI, bukan?

Jadi, kita salah kalau hanya menimpakan kesalahan sama pedagang. Karena justru kitalah sebagai PIHAK KONSUMEN yang harus diingatkan untuk tidak membeli barang apapun dari mereka.

Gampangnya sih, “selama masih ada yang mau beli, kenapa kita gak tetap jualan aja”.

Mungkin itu yang ada di pikiran para penjual. Pihak yang bersalah di sini harusnya adalah konsumen yang membuat pedagang tetap menjual barang dagangannya, meskipun sudah dilarang.

Coba pikirin deh, “kalau gak ada yang beli, apa masih ada yang mau jual?”, gak kan?

Ada yang salah sama perilaku masyarakat kita. Orang-orang pada gak mau mengakui kesalahan diri sendiri dan malas untuk introspeksi diri.
Ya hasilnya, kita gak bisa maju-maju, karena pihak A nyalahin pihak B, pihak B nyalahin pihak C, dan seterusnya dan seterusnya.


Contoh-contoh kasus yang lainnya itu konsepnya sama sih. Kita terus merasa diri kita yang paling benar pada suatu waktu. Turn out, it is not!

Coba kita lebih rajin membuka pikiran dan memperluas pandangan serta memandang suatu kasus/fenomena dari berbagai sisi, ‘apa yang kita lakukan sudah pasti benar?’, ‘apa benar orang ini mutlak salah?’, dan sebagainya.




No comments:

Post a Comment